Jepara

Apa yang teringat ketika kata “Jepara” disebut? ukiran, Kartini, emansipasi, atau yang lainnya? Kalau aku yang teringat dari Jepara adalah “kepiting seember” hahahaha… Kenapa kepiting satu ember? karena beberapa tahun lalu (tahun 2017 kalo gak salah..) di pinggir pantai Bandengan Jepara aku pernah menyantap satu ember kepiting rebus, iya beneran satu ember, walaupun waktu itu aku datang bersama beberapa kawan tapi rasanya yang paling banyak makan kepiting itu aku deh, selain karena aku suka makan kepiting rasanya itu loh yang bikin mulut gak bisa berhenti mengunyahnya. Kepiting itu cuma direbus begitu saja lalu dicocol dengan bumbu khusus racikan mbok Gipah, waktu itu kami memilih kepitingnya dari ember-ember yang semuanya berisi kepiting, setelah memilih salah satu ember lalu serahkan pada petugas untuk dimasak ditempat, semuanya masih segar dimakan dipinggir pantai sambil menikmati hembusan angin pantai Bandengan, benar-benar kenikmatan yang tak terlupakan sampai sekarang.

Matahari terbit menjadi salah satu andalan pemandangan Pantai Bandengan Jepara. (foto : Liputan6.com/Sheilla Istiqomah/Edhi Prayitno Ige)

Kabupaten yang terletak diujung utara pulau Jawa, dilansir dari halaman resmi Pemerintah Jepara, jauh sebelum kerajaan ditanah jawa muncul, Jepara terletak di pulau Muria yang berpusat di gunung Muria, pulau ini terpisah dari Pulau Jawa diantaranya ada selat Juwana (menurut buku “Sejarah Baru Dinasti Tang, 618-906 M”). Masih dari sumber yang sama, saat itu pulau diujung utara pulau Jawa itu ditinggali oleh sekelompok penduduk yang berasal dari daerah Yunnan Selatan, China. Pada tahun 674 M I-Tsing, seorang musafir Tionghoa, pernah mengunjungi negeri Holing atau Kaling atau Kalingga yang juga disebut Jawa atau Japa (diyakini lokasi saat ini ada di Keling, wilayah timur Jepara).

Jepara baru dikenal pada abad ke-XV (1470 M) Menurut sejarahwan Hindia Belanda Cornelis Lekkerkerker, kata “Jepara” berasal dari kata Ujungpara yang kemudian berubah menjadi kata Ujung Mara, Jumpara, dan akhirnya menjadi Jepara atau Japara. Kata Ujungpara berasal dari bahasa Jawa yang terdiri atas dua kata, yaitu Ujung dan Para. Kata Ujung berarti “bagian darat yang menjorok jauh ke laut”, sedangkan kata Para, berarti “menunjukkan arah”. Kedua kata itu jika digabung akan berarti suatu daerah yang letaknya menjorok jauh ke laut. Sumber lain mengartikan Para sebagai Pepara, yang artinya bebakulan mrono mrene, yang kemudian diartikan sebuah ujung tempat bermukimnya para pedagang dari berbagai daerah. Orang Jawa menyebut nama Jepara menjadi Jeporo, dan orang Jawa yang menggunakan bahasa krama inggil (bahasa jawa halus) menyebut Jepara menjadi Jepanten, dalam bahasa Inggris disebut Japara. Sedangkan orang Belanda menyebut dengan Yapara atau Japare.

Saat ini Jepara merupakan kabupaten yang memiliki banyak potensi bukan hanya tingkat nasional tapi sudah mendunia, sebut saja ukiran Jepara, yang sudah diakui oleh dunia. bersumber dari Indonesia.go.id, legenda tentang pengukir Jepara bermula saat zaman kekuasaan Raja Brawijaya di kerajaan Majapahit yang memanggil Prabangkara untuk melukis istrinya tanpa berbusana sebagai wujud cinta. Namun Raja Brawijaya memanggil ahli lukis dan ahli ukir bernama Prabangkara untuk melukis sang permaisuri dengan imajinasinya tanpa boleh melihatnya. Hasilnya sangat memuaskan sang Raja, namun sayang, kotoran seekor cicak ternyata mengotori lukisan itu tepat dimana sang permaisuri memiliki tahi lalat yang kemudian membuat Raja Brawijaya murka karena mengira Prabangkara mengintip sang permaisuri. Prabangkara dihukum dengan diikat di layang-layang dan diterbangkan yang kemudian jatuh di daerah Mulyoharjo. Disanalah Prabangkara mulai mengajarkan ilmu ukir kepada warga Jepara yang berkembang pesat hingga saat ini.

Ukiran Jepara sudah ada sejak zaman pemerintahan Ratu Kalinyamat sekitar tahun 1549. Anak perempuan Ratu bernama Retno Kencono mempunyai peranan yang besar bagi perkembangan seni ukir. Di zaman ini kesenian ukir berkembang dengan sangat pesat ditambah dengan adanya seorang menteri bernama Sungging Badarduwung yang berasal dari Campa dan sangat ahli dalam seni ukir. Sementara daerah Belakang Gunung diceritakan terdapat sekelompok pengukir yang bertugas untuk melayani kebutuhan ukir keluarga kerajaan. Semakin hari kelompok ini berkembang menjadi semakin banyak karena desa-desa tetangga mereka pun ikut belajar mengukir. Namun, sepeninggal Ratu Kali Nyamat, perkembangan mereka terhenti dan baru berkembang kemudian di era Kartini, pahlawan wanita yang lahir di Jepara. 

ilustrasi by Indonesia.go.id

Untuk yang pengen ke Jepara memang harus diniatin banget karena Jepara bukan kota perlintasan jadi posisinya benar-benar dipojokkan pulau Jawa. Tak sulit untuk datang ke Jepara, jika dari Jakarta mengendarai mobil kita bisa keluar tol di Semarang lalu melewati Demak ikuti rambu-rambu yang menunjukkan arah ke Jepara, idealnya Semarang – Jepara bisa ditempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam tergantung waktu dan kondisi perjalanannya.

Tempat wisata yang paling terkenal adalah taman nasional Karimunjawa, lokasinya sekitar 83 km dari kota Jepara, taman nasional Karimunjawa ini adalah kawasan laut yang dilindungi dengan tipe ekosistem hutan hujan daratan rendah dan didalamnya terdapat banyak biota laut yang dilindungi. untuk penggemar wisata bawah laut harus mengeksplore wilayah ini karena disini terdapat 90 jenis karang keras dan 242 jenis ikan hias, jadi siapkan waktu untuk datang kesini ya..

Di Jepara juga terdapat peninggalan bangsa Portugis yaitu benteng yang dibangun oleh bangsa Portugis pada tahun 1632, pada masa Sultan Agung memerintah Kerajaan Mataram. Benteng ini merupakan hasil perjanjian antara Mataram dengan Portugis. Tujuan dibuatnya benteng yaitu sebagai pusat pertahanan dan menjaga lintas pelayaran dari ancaman VOC karena pada saat itu Mataram berseteru dengan VOC.

Benteng Portugis terletak di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, atau 45 kilometer di sebelah utara Kota Jepara. Awalnya, benteng ini berada di wilayah Kecamatan Keling. Tetapi setelah adanya pemekaran wilayah pada 2008-2009, Benteng Portugis kini masuk dalam wilayah Jepara.

Benteng ini dibangun di atas sebuah bukit batu di pinggir laut dan persis di depannya terhampar Pulau Mondoliko. Bangunan ini sangat strategis untuk kepentingan militer, khususnya zaman dahulu yang kemampuan tembakan meriamnya terbatas 2 sampai 3 km saja. Kini, Benteng Portugis menjadi salah satu objek wisata andalan di Jepara.

Benteng Portugis Jepara (donorojo.jepara.go.id)

Nah.. sekarang apa yang kalian ingat dengan Jepara? kasih tau aku ya.. mungkin kita memiliki ingatan yang sama.. :), yang pasti kita semua tahu kalau tanggal 21 April adalah hari kelahiran ibu Kartini. selamat hari Kartini, habis gelap terbitlah terang.

#pengalaman jalan-jalan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s